Perbatasan Kabupaten Sumenep

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Perbatasan Kota Sumenep

Perbatasan Kota Sumenep

Taman Bunga Sumenep

Taman Bunga Sumenep, Alun-alun Sumenep

Pantai Lombang

Pantai Lombang Sumenep

Pelabuhan Kalianget

Pelabuhan Kalianget Sumenep

Jumat, 23 Maret 2012

SUMENEP

Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi 1.041.915 jiwa. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep.
Nama Songènèb sendiri dalam arti etimologinya merupakan Bahasa Kawi / Jawa Kuno yang jika diterjemaahkan sebagai berikut, Kata “Sung” mempunyai arti sebuah relung/cekungan/lembah dan kata “ènèb” yang berarti endapan yang tenang, dan jika diartikan lebih dalam lagi Songènèb / Songennep (bhs:Madura) mempunyai arti "lembah/cekungan yang tenang".
Penyebutan Kata Songènèb sendiri sebenarnya sudah popular semenjak Kerajaan Singhasari sudah berkuasa atas Jawa dan Sekitarnya, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Pararaton tentang penyebutan daerah Sumenep pada saat sang Prabu Kertanegara mendinohaken (menyingkirkan) Arya Wiraraja (penasehat kerajaan dalam bidang politik dan pemerintahan) ke Sumenep, Madura Timur pada tahun 1926 M
'“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungeneb, anger ing Madura wetan”.' Yang artinya :
“Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”
Kabupaten Sumenep pada masa kolonial dikuasai oleh keluarg elit Kadipaten Sumenep, yaitu wangsa Cakraningrat.

SEJARAH

Era Pra Kolonial
Menurut Sumber-Sumber dari Cina, semenjak Pemerintahan Raja Airlangga, daerah Negara Madura dibagi menjadi dua daerah bagian, yaitu Madura Barat dan Madura Timur, untuk Madura Barat, di kuasai oleh Kerajaan Widarba dengan rajanya yaitu Bala Dewa, yang merupakan negara mertua Khrisna, Di tumpang tindihkan dengan kerajaan Bidarba yang beribu kota Pacangan tempat Bangsacara berjumpa Ragapadmi. sedangkan untuk Madura timur dikuasai oleh kerajaan Mandaraka dengan rajanya Prabu Salya.
Pada Era Kerajaan Singhasari, daerah Sumenep dipimpin oleh seorang Adipati yang juga menjadi dalang pembangunan Kerajaan Majapahit, Arya Wiraraja. Dituliskan dalam berbagai kitab dan prasasti, yang salah satunya dalam kitab pararaton,Bahwa Arya Wiraraja tidak dipercaya lagi oleh Raja Wisnuwardhana dan dinohaken (dijauhkan) ke Sumenep, Madura timur tepat pada tanggal 31 Oktober 1269 Masehi, dan sejak tanggal itulah pemerintahan Sumenep dimulai.
“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungennep, anger ing madura wetan”. Yang artinya : Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura sebelah timur.

Era Kolonial
Menurut buku "Tjareta Negraha Songenep", Kompeni Belanda atau VOC datang di Sumenep pada kurun pemerintahan Raden Bugan (1648-1672), sahabat Raden Trunojoyo. Setelah perjuangan Trunojoyo dapat dipatahkan, maka Pamekasan dan Sumenep kemudian takluk kepada kekuasaan Kompeni. Bahkan sepeninggal Raden Bugan, Kompeni ikut campur menentukan tampuk pemerintahan Sumenep, kemudian menentukan Raden Sudarmo, putra tunggal Raden Bugan yang masih remaja, dibawa dan diasuh Kompeni di Batavia. Pada tahun 1704 Pangeran Cakraningrat meninggal dan di Mataram terjadi peristiwa penandatanganan antara Pangeran Puger dengan Kompeni, bahwa Kompeni mengakui kekuasaan Pangeran Puger yang saat itu sedang berselisih dengan Sunan Mas (Amangkurat III). Sebaliknya Pangeran Puger berkewajiban menyerahkan sebagian dari tanah Jawa dan Madura bagian Timur kepada Kompeni. Dengan demikian untuk yang kedua kalinya Sumenep jatuh ke tangan Kompeni,hal tersebut terjadi dalam perjanjian antara Susunuhan Kerajaan Mataram dengan Kompeni pada tanggal pada tanggal 5 Oktober 1705. Adapun pernyataan tersebut ialah: “Paduka yang Mahamulia Susuhunan dengan ini menyerahkan secara syah kepada Kompeni untuk melindungi daerah-daerah Sumenep dan Pamekasan…. secara yang sama seperti dilakukan oleh Bupati yang terdahulu waktu menyerahkan daerahnya kepada Kompeni….”(Resink, 1984: 252). Pada saat itu daerah Sumenep dalam masa pemerintahan Panembahan Romo (Cokronegoro II). Pada masa pemerintahan R.Alza (1744-1749) terjadi pemberontakan yang dipimpin Ke Lesap dari Bangkalan. Pada saat itu Ke Lesap menggalang kekuatan yang ada pada rakyat yang sudah benci kepada Kompeni. Ia berjuang dari Timur dengan menguasai Keraton Sumenep. Ke Lesap memerintah Sumenep hanya dalam waktu 1 tahun yaitu tahun 1749-1750. Pemerintahan berikutnya dipegang oleh Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana (1750-1762) keturunan dari Raden Bugan yang kemudian kawin dengan seorang ulama bernama Bendoro Saud. Bendoro Saud kemudian oleh Kompeni dinobatkan sebagai Bupati Sumenep dengan gelarnya Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro. Panembahan Sumolo Asirudin putra Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bendoro Saud) dan putra angkat dari Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana, atas permintaan kedua orangtuanya, oleh Kompeni dikabulkan dan diangkat menjadi Bupati Sumenep menggantikan ayahnya. Beliau memerintah pada tahun 1762-1811 bergelar Tumenggung Ario Notokusumo atau kemudian terkenal dengan sebutan Panembahan Somala. pendiri Keraton Sumenep dan Masjid Jamik Sumenep Pada saat periode pemerintahan Kanjeng Pangeran Ario Pratamingkusumo yang memerintah pada tahun 1901-1926 pemerintahan kolonial mulai membangun berbagai fasilitas-fasilitas di Sumenep seiring dengan di berlakukannya politik etis politik balas budi pada saat itu, maka pemerintah Belanda di Sumenep, membangun beberapa fasilitas, diantaranya :
  • Pembangunan DAM/Irigasi di Sungai Kebon Agung
  • Pembangunan HIS Soemenep
  • Pembangunan fasilitas transportasi (kereta api Madura / ophalbrugh (red:ghaladak rantai) di Kali Marengan
  • Pembangunan Pabrik Garam Modern di Kalianget.
Siswa HIS Sumenep di tahun 1934
Kemerdekaan
Pada saat Perang Kemerdekaan, para pejuang Sumenep juga gigih mempertahankan kemerdekaan, sehingga pada tanggal 11 November 1947 terjadi pertempuran yang sangat tragis, dimana pada saat itu Kota Sumenep diserang oleh lima pesawat udara dari empat jurusan. pada saat itu, Belanda berhasil menguasai daerah pertahanan terakhir di Pulau Madura, yakni Sumenep. dan pada saat itu juga, praktis pemerintahan di Madura yang berpusat Kota Pamekasan dipindahkan ke desa Lanjuk, Manding, Sumenep.

Sumenep, Kota yang menyimpan seribu pesona

Sumenep salah satu kota di Pulau Madura yaitu kota paling ujung timur Pulau Madura, dengan letak geografis yang cukup unik yaitu banyak terdapat bukit, pantai, hutan dan sungai-sungai yang indah meliuk-liuk bagaikan ular raksasa.
Salah satu daya tarik pesona di Sumenep yaitu banyak tempat wisata dengan panorama alam yang sangat indah,
Inilah beberapa tempat wisata terkenal yaitu :
1.Pantai Lombang
Pantai dengan panorama yang indah yang terletak di desa dungkek sekitar 45 km ke timur dari kota sumenep, dipantai tersebut banyak ditumbuhi pohon cemara udang yang banyak tersebar disekitar bibir pantai,
Terdapat fasilitas yang cukup memadai yaitu fasilitas parkir yang luas, kamar bilas, toko souvenir, penyewaan perahu dan banyak lagi,
Disana kita bisa bisa snorkling dan menikmati pemandangan yang bagus dibawah pohon cemara udang yang sangat menyejukan.
2. Pantai Slopeng
Pantai dengan panorama yang indah ditambah hamparan pasir putih yang mempesona membuat kita seakan-akan betah disana,
Untuk fasilitas Pemerintah Kabupaten Sumenep membangun slopeng dengan fasilitas yang memadai seperti toko souvenir, toko jajanan, kamar mandi, parkir dan banyak lagi.
3. Keraton dan Museum Sumenep

Keraton yang didirikan oleh Raja Sumenep  yaitu Pangeran Notokusumo,  bangunan tersebut dirancang dengan arsitektur Eropa karena waktu pembangunan keraton tersebut bertepatan dengan waktu kedatangan Belanda ke Sumenep,
Bangunan tersebut terdiri dari Pendopo Agung, Kantor Koneng, Taman Sare, Rumah Selir dan Labeng Mesem,
Pendopo agung adalah bangunan tempat berkumpulnya raja dan punggawa-punggawanya.
Kantor Koneng adalah bangunan yang dibangun oleh Pangeran Aryo Kusumo digunakan untuk mengaji dan digunakan aktivitas lainnya.
Taman Sare adalah tempat pemandian raja-raja sumenep beserta istri,selir dan putri-putrinya.
Rumah Selir digunakan sebagai tempat tinggalnya para selir dan istri raja.
Labeng Mesem adalah pintu gerbang yang digunakan untuk masuk ke keraton dan diatasnya bisa digunakan untuk duduk-duduk raja dan pengawalnya.
5. Pemakaman Raja  Asta Tinggi

Pemakaman raja-raja Sumenep yang terletak di desa Kebunagung sekitar 3 KM dari kota Sumenep, disana terdapat pemakaman raja-raja Sumenep berserta keluarganya.
Dan konon disana menurut para tokoh masyarakat terdapat makam pahlawan nasional yaitu pangeran dipenogoro yang lari ke sumenep dan meminta perlindungan Raja Sumenep dari kejaran serdadu Belanda.
Itulah tempat-tempat wisata disumenep dan masih banyak lagi yang belum sempat saya jelaskan dan sebutkan, untuk lebih jelasnya Eatore datang sendiri ke Sumenep,
Mon terro onenga de’ Sumenep eatore ka Sumenep
( Kalau pengen tahu sama sumenep, dipersilahkan datang ke Sumenep)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More